
PALEMBANG – Dosen Tetap Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Sumatera Selatan, Dr. Addinul Ikhsan, CPA., CFAP., CTA., menghadirkan terobosan pemikiran akademik melalui gagasan konseptual yang disebut Self-Accounting. Konsep ini memperluas paradigma akuntansi konvensional yang selama ini berfokus pada informasi dan transaksi ekonomi, menjadi sebuah sistem kesadaran, evaluasi, dan pertanggungjawaban moral manusia secara utuh.
Melalui tulisannya yang bertajuk "SELF ACCOUNTING: Integrasi Konsep Pencatatan Perbuatan, Kesadaran Diri, dan Pertanggungjawaban Manusia", Dr. Addinul—yang juga merupakan Praktisi Akuntan Publik—memaparkan bahwa manusia tidak hanya berhadapan dengan pencatatan finansial, tetapi juga pencatatan atas seluruh perbuatannya.
"Self Accounting memperluas ruang refleksi tersebut ke wilayah diri manusia. Perluasan ini bukan berarti mengganti financial accounting, melainkan membangun konsep tambahan mengenai accountability pribadi kepada Allah, sesama, lingkungan, dan diri sendiri," jelas Dr. Addinul dalam konsep tersebut.
Pendekatan Lintas Kitab Suci Menariknya, gagasan ini diperkuat dengan pendekatan komparatif lintas tradisi agama. Kajian ini menelusuri irisan tema dalam Taurat (Perjanjian Lama), Injil (Perjanjian Baru), dan Al-Qur’an. Ketiganya memiliki pandangan yang sejalan bahwa perbuatan manusia selalu diawasi, direkam dalam sebuah "kitab peringatan" atau catatan amal, dan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebagai kampus berbasis Islam, landasan Al-Qur'an menjadi pijakan kuat dalam konsep ini. Beberapa rujukan yang digunakan di antaranya adalah QS Al-Qamar: 52-53 yang menekankan prinsip kelengkapan pencatatan (completeness of records), QS Al-Isra’: 13-14 mengenai evaluasi diri (self-review), serta QS Az-Zalzalah: 7-8 yang mencerminkan "materialitas moral" di mana perbuatan sekecil zarrah pun tetap masuk dalam hitungan pertanggungjawaban.
Siklus Konseptual Self-Accounting Untuk dapat diterapkan dan dikembangkan dalam ranah akademik, Dr. Addinul merumuskan siklus model Self-Accounting ke dalam delapan tahapan berkesinambungan:
Awareness: Menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Identification: Mengenali apa yang telah dilakukan.
Recording: Membuat catatan atau rekam jejak diri.
Classification: Mengelompokkan perbuatan (ibadah, sosial, ekonomi, lingkungan, dan pribadi).
Review: Memeriksa kesesuaian perbuatan dengan prinsip kebenaran (audit internal batin).
Correction: Melakukan perbaikan atas kesalahan yang ditemukan.
Accountability: Menyadari dan menerima konsekuensi moral atau spiritual.
Improvement: Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan diri ke arah yang lebih baik.
Inovasi pemikiran dari Dosen IAINU Sumsel ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan, khususnya disiplin behavioral accounting, Islamic accounting, dan spiritual accounting. Melalui Self-Accounting, ilmu akuntansi tidak lagi sekadar menjawab "berapa nilai transaksi?", melainkan berevolusi untuk menjawab "apa yang telah saya lakukan?", "apa dampaknya?", dan "apa yang harus saya perbaiki?".
Sumber: Diadaptasi dari artikel opini/kajian "SELF ACCOUNTING: Integrasi Konsep Pencatatan Perbuatan, Kesadaran Diri, dan Pertanggungjawaban Manusia" yang diterbitkan di Lentera Pendidikan.